Aku sedang brtnya kenapa?
Kenapa dihidup ini kesempatan bisa di bungkam oleh emosi?
Kenapa segala argumen dan pembelaan dapat terbantah mentah oleh emosi ?
Kenapa segala prasangka terpasti buruk oleh karena benci ?
Kenapa marah mudah terekspansi oleh karena hati telah tertutup rapi ?
Kita mati, mati dibunuh emosi. Diikat kencang oleh tali kematian rasa sabar yangg telah termuntah karena mual dan muak kala pagi. Kita bisu, dibisukan oleh perasaan "aku" yg menggelora menyumut hati. Kita terpaksa tunduk diam dan kalah atau masalah akan makin rumit kembali
Aku bukan sang maha benar, aku bukan sang maha pembaca hati. Dan aku bukan sang bisu, bahkan sang bisu pun tak boleh dianggap bisu. Aku terkadang salah tapi aku tak mau selalu dibisu emosi. Argumentasi dan pembelaan bukanlah untuk mengelak pergi tapi hanya untuk membuka tabir pemikiran yg lain, memberikan kau manusia untuk kembali berpikir.
Aku tidak melarang apapun tafsirmu pada tulisku, aku tdk melarang apapun komentarmu pada tulisku. Itu bkan hakku
Selasa, 12 Agustus 2014
Senin, 28 Juli 2014
Aku dan Setan Dalam diriku
Ramadhan telah
berlalu, syawal tiba bak seorang tamu. Ramadhan bulan yang penuh berkah dan
syawal bulan kemangan. Ramadhan ditutup dengan gema takbir dan sorak gembira
anak-anak kecil yang menanti datangnya hari raya idul fitri. Namun, kali ini
saya tidak ingin bercerita tentang hari raya idul fitri atau Bulan Syawal. Kali
ini saya ingin bercerita tentang sebuah kesimpulan yang saya dapat dari satu Bulan
Ramadhan kemarin.
1 Ramadhan 1435
H tahun ini jatuh pada tanggal 29 Juni 2014 berdasarkan siding isbat kementrian
agama. Seperti biasa ada perbedaan dengan beberapa ormas Islam dalam penetapan saya
tak mengapa, bukan suatu masalah yang perlu dibesar-besarkan.
Pada Ramadhan ini
aku baru sadar suatu hal bahwa aku telah lebih akrab dengan setan. Kita tahu bahwa setan adalah
makhluk ciptaan Allah SWT yang diciptakan dari api yang selalu menggoda
manusia. Sepengatahuan saya tujuan besar setan Cuma satu yaitu mencari manusia
untuk dijadikan teman di neraka nanti. Sungguh kasihan dan kesepiannya serta
takut setan, sehingga mereka mencari teman dari makhluk ciptaan Allah yang
paling sempurna yaitu manusia, terbayang kah menyeramkannya neraka ? Namun, sepertinya
memang manusia lah yang sepertinya paling mudah dan paling “worth-it” atau dalam B. Indonesia
sepadan. Mengapa demikian ? manusia diciptakan Allah dengan akal dan nafsu. Manusia
diciptakan pula dengan kehendak bebas (free
will), Allah memberikan kesempatan kepada kita sebagai manusia untuk
menentukan jalan yang akan kita ambil pada beberapa sisi.
Setan akan selalu menggoda manusia,
membisikkan keraguan dalam berbuat baik dan kemantapan dalam berbuat buruk. Baik
dan buruk disini tentunya dalam perspektif kebenaran mutlak yang diatur oleh
Allah SWT. Manusia tidak luput dari godaan setan,
mereka sangat rajin dan giat dalam menggoda dan menjerumuskan manusia
kedalam lubang-lubang kesalahan. Namun, pada bulan ramadhan kabarnya setan-setan
dibelenggu oleh Allah SWT. Hal tersebut berdasarkan pada sebuah hadist Nabi
Muhammad SAW yang berbunyi,
artinya “Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ketika Ramadhan
datang maka dibukalah pintu-pintu surga, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan
dirantailah syetan-syetan. (Hadits Riwayat Al-Bukhari nomor 1899, dn Muslim
nomor 1079). (diunduh dari http://www.nahimunkar.com/hadits-tentang-ramadhan-datang-setan-setan-dibelenggu/
pada 28 Juli 2014)
Ada yang menafsirkan
bahwa tidak secara harfiah dirantai dan tidak bisa menggoda manusia, tapi
semacam kekuatannya dilemahkan jadi dalam menggoda tidak semulus di bulan-bulan
biasa. Pada intinya dalam Bulan Ramadhan, setan tidak bisa menggoda manusia
seperti biasanya. Saya tidak akan membahas penafsiran tersebut, yang ingin saya
bahas pada tulisan ini adalah tentang keakraban saya dengan setan pada awal-awal Bulan Ramadhan.
Pada sesaat
sebelum Ramadhan saya akui bahwa saya sedikit jauh dari Allah SWT. Betapa terasanya
ketika kita sedang jauh dari-Nya. Berat kaki melangkah dalam beribadah serasa
badan lemas tak menampakkan daya. Pada waktu itu saya merasa ini pasti godaan setan. Entah itu aku membuat sebuah
hipotesis yang saya buat atau hanya saya mencari pembelaan atas dosa saya
sendiri.
Lalu Ramadhan
pun tiba dan saya bergembira berharap akan ada perubahan dalam diriku dan akan
kembali mendekat kepada Allah SWT. Namun, ternyata kenyataannya berbeda dengan
apa yang saya harapkan. Jujur, aku tidak mengalami perubahan yang berarti. Kemalasan-kemalasan
dan rasa berat dalam langkah itu masih ada. Saya pun bertanya, mengapa ini
masih terasa sama padahal ini Bulan Ramadhan ? Apakah setan masih menghasutku ?
Akhirnya aku
sadar bahwa terkadang kitalah yang menjadi setan bagi diri kita sendiri. Bahkan
mungkin sekarang setan tanpa
menggoda manusia sudah seperti setan. Jadi jikalau kita melakukan suatu
tindakan yang tidak baik atau maksiat janganlah langsung menyalahkan setan tapi
coba tengok kedalam diri kita. Setankah kita ?
Mari tingkatkan
Iman dan Taqwa kita, bentengi diri dari segala godaan yang muncul baik dari
luar maupun dari dalam sendiri. Sekian sedikit cerita yang saya bagi, semoga
bermanfaat J
Jumat, 11 Juli 2014
Dalam Ujung Tangkup
Dalam ujung tangkup...
Kasih pantas kau terima
Puji pun boleh kau punya
Sekalah sejenak para pencerca
Dalam ujung tangkup...
Calon-calon penggantimu sedang berlaga
Berkoar-koar dan melebur dalam masa
Menggaet suara dan kepercayaan bangsa
Dalam ujung tangkup...
Kau yang masih berdiri disana
Kau yang masih berpeluh jasa
Tetapi sekarang kau hampir dilupa
Dalam ujung tangkup...
Mata berkantungmu jadi saksi mata
Keriputmu jadi bukti nyata
Bahwa lelah telah jadi kawan di setiap senja
Dalam ujung tangkup...
Teruntuk engkau yang pasti punya banyak jasa
Teruntuk engkau yang pasti pernah membawa perubahan nyata
Teruntuk engkau yang pasti susah tidur memikirkan bangsa
Dalam ujung tangkup...
Teruntuk engkau sang Indonesia dalam dasawarsa
Teruntuk engkau sang wali bangsa
Teruntuk engkau sang abdi negara
Dalam ujung tangkup...
Kami mohonkan maaf kepada engkau yang kami sasarkan
Sasarkan akan protes penuh kemarahan
Sasarkan akan hinaan kata yang menyakiti perasaan
Dalam ujung tangkup...
Aku sadari bahwa tugasmu tak mudah
Aku sadari bahwa rakyatmu mudah sekali gundah
Aku sadari bahwa mereka yang mencercamu tak kenal lelah
Dalam ujung tangkup...
Kurapatkan ujung-ujung jari kananku dipelipis mata
seraya berkata lantang dan sederhana
TERIMA KASIH BAPAK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, our Presiden of Indonesia
Kasih pantas kau terima
Puji pun boleh kau punya
Sekalah sejenak para pencerca
Dalam ujung tangkup...
Calon-calon penggantimu sedang berlaga
Berkoar-koar dan melebur dalam masa
Menggaet suara dan kepercayaan bangsa
Dalam ujung tangkup...
Kau yang masih berdiri disana
Kau yang masih berpeluh jasa
Tetapi sekarang kau hampir dilupa
Dalam ujung tangkup...
Mata berkantungmu jadi saksi mata
Keriputmu jadi bukti nyata
Bahwa lelah telah jadi kawan di setiap senja
Dalam ujung tangkup...
Teruntuk engkau yang pasti punya banyak jasa
Teruntuk engkau yang pasti pernah membawa perubahan nyata
Teruntuk engkau yang pasti susah tidur memikirkan bangsa
Dalam ujung tangkup...
Teruntuk engkau sang Indonesia dalam dasawarsa
Teruntuk engkau sang wali bangsa
Teruntuk engkau sang abdi negara
Dalam ujung tangkup...
Kami mohonkan maaf kepada engkau yang kami sasarkan
Sasarkan akan protes penuh kemarahan
Sasarkan akan hinaan kata yang menyakiti perasaan
Dalam ujung tangkup...
Aku sadari bahwa tugasmu tak mudah
Aku sadari bahwa rakyatmu mudah sekali gundah
Aku sadari bahwa mereka yang mencercamu tak kenal lelah
Dalam ujung tangkup...
Kurapatkan ujung-ujung jari kananku dipelipis mata
seraya berkata lantang dan sederhana
TERIMA KASIH BAPAK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, our Presiden of Indonesia
catatan : aku bukan sang simpatisan yang buta membela dan memuja sosok tanpa cela, aku hanya seorang yang berusaha berterima kasih atas jasa, hanya mencoba menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Kamis, 19 Juni 2014
aku, dan rindu thdp teman-teman (keluarga)
akulah perantau dalam kota orang yang tentu jauh dari mereka penuntun tumbuh kembangku dulu #teman
jauh tntu tak dekat, tak terlihat dalam pasang mata, tak terpeluk oleh tangan yg terbuka, dan tak bisa disandar oleh kepala2 yg berat #teman
lalu rindu mulai menggebu, mengtuk pintu sbgai tamu kehidupan menjadi teman sepi yang semakin membuat sepi #teman
tapi tapi tapi, aku tak mengerti tiba2 mereka tersubjekkan sbg #teman datang. datan sbg pundak2 baru dan ladang2 senyum baru
jikalau kupanggil kau #teman tiada kira pikir kau datang.
bergulir waktu berjalan bersama kita yang sering jalan2 bersama hanya untuk skdar makan atau menghilangkan penat #teman
kami mati, dibunuh orientasi kehidupan masing2, dikubur oleh kesibukan masing2. kami dimatikan oleh kehidupan #teman
kami mnjadi zombie dlam mimpi2 nyata kami, seorang mayat hidup yang berjalan kedepan, mungkin terkesan bersama tapi sendiri sejatinya #teman
aku pun demikian, mungkin malah aku adalah yang terjauh dari kalian yg terkesan bersama #teman
dan dimalam ini rinduku tertampar realita dan menampar realita. mereka mencuat dalam ruang kosong yang saya sebut otak #teman
halo #teman apa kabar ? ayo main atau makan bareng lagi :)
jauh tntu tak dekat, tak terlihat dalam pasang mata, tak terpeluk oleh tangan yg terbuka, dan tak bisa disandar oleh kepala2 yg berat #teman
lalu rindu mulai menggebu, mengtuk pintu sbgai tamu kehidupan menjadi teman sepi yang semakin membuat sepi #teman
tapi tapi tapi, aku tak mengerti tiba2 mereka tersubjekkan sbg #teman datang. datan sbg pundak2 baru dan ladang2 senyum baru
jikalau kupanggil kau #teman tiada kira pikir kau datang.
bergulir waktu berjalan bersama kita yang sering jalan2 bersama hanya untuk skdar makan atau menghilangkan penat #teman
kami mati, dibunuh orientasi kehidupan masing2, dikubur oleh kesibukan masing2. kami dimatikan oleh kehidupan #teman
kami mnjadi zombie dlam mimpi2 nyata kami, seorang mayat hidup yang berjalan kedepan, mungkin terkesan bersama tapi sendiri sejatinya #teman
aku pun demikian, mungkin malah aku adalah yang terjauh dari kalian yg terkesan bersama #teman
dan dimalam ini rinduku tertampar realita dan menampar realita. mereka mencuat dalam ruang kosong yang saya sebut otak #teman
halo #teman apa kabar ? ayo main atau makan bareng lagi :)
tanda baca hidupku, hidupmu ?
Aku, terkomakan dari masa lalu yg membayang. Mencari titik dari akhir dari setiap bab kehidupan dan mencoba brpindah
Kamu, tertitik koma dari sebuah cerita masa lalu yg selalu bisa dibaca ulang. Dan stabilo stabilo kuning itu tetap menyala terang mmbantu
Dia, tertanda tanyakan oleh kekinian. Berlalu lalang dan mnjadi sebab dr jauh dekat. Pemberi alsan dan sekaligus penghilangan alasan
mereka, tertitik pada kotak infromasi yang terbatas fana. membunyi dan bergerak dalam batas pegetahuan, terkadang berbalut pada kemunafikan
kalian, tertandapetik dalam setiap kata dan tindak raga. berprosa dlm tawa dan cerita. aktif membawaku dari jalan lalu dan jalur searah
kita, terspasi dalam setiap ruang memori. berkala berubah thdp tekanan dan selalu teringat dalam ruang dimensi yg tertabrak tak sengaja
kami, tertutupkurungkan pada marjinalitas kebahagiaan. tak dapat dipahami kaum luar, sederhana dalam kompleksitas kehidupan. tak mengapa
Kamu, tertitik koma dari sebuah cerita masa lalu yg selalu bisa dibaca ulang. Dan stabilo stabilo kuning itu tetap menyala terang mmbantu
Dia, tertanda tanyakan oleh kekinian. Berlalu lalang dan mnjadi sebab dr jauh dekat. Pemberi alsan dan sekaligus penghilangan alasan
mereka, tertitik pada kotak infromasi yang terbatas fana. membunyi dan bergerak dalam batas pegetahuan, terkadang berbalut pada kemunafikan
kalian, tertandapetik dalam setiap kata dan tindak raga. berprosa dlm tawa dan cerita. aktif membawaku dari jalan lalu dan jalur searah
kita, terspasi dalam setiap ruang memori. berkala berubah thdp tekanan dan selalu teringat dalam ruang dimensi yg tertabrak tak sengaja
kami, tertutupkurungkan pada marjinalitas kebahagiaan. tak dapat dipahami kaum luar, sederhana dalam kompleksitas kehidupan. tak mengapa
Senin, 26 Mei 2014
jauh
aku sedang jauh
dari cinta yang begitu sejati adanya
tiada pencerah pada hati yang semakin jenuh
dan lalu semakin menjauh aku dari-Nya
semakin aku tiada sadar
semakin jauh ternyata
semakin terbiasa pula terasa
padahal ini tentang Dia
Dia selalu ada tanpa kita minta ada
Dia yang menjadi sebab akan adanya sesuatu yg ada
Dia yang maha bijaksana dalam segala ketidakbijaksanaan kita
Dia yang berbeda dari kita ciptaan-Nya
Kenapa terkadang ada rasa nyaman di dada ?
padahal kita sedang jauh dengan pencipta ?
apakah setan akan selalu kita persalahkan ?
benarkah ini bukan karena kita yang menjauhkan ?
aaaaaaaaaaaaah
aku terlalu sibuk bertanya mengapa
sementara waktu semakin habis mengkikis kisah
yang seharusnya aku menyegerakan untuk bertaubat saja
dari cinta yang begitu sejati adanyatiada pencerah pada hati yang semakin jenuh
dan lalu semakin menjauh aku dari-Nya
semakin aku tiada sadar
semakin jauh ternyata
semakin terbiasa pula terasa
padahal ini tentang Dia
Dia selalu ada tanpa kita minta ada
Dia yang menjadi sebab akan adanya sesuatu yg ada
Dia yang maha bijaksana dalam segala ketidakbijaksanaan kita
Dia yang berbeda dari kita ciptaan-Nya
Kenapa terkadang ada rasa nyaman di dada ?
padahal kita sedang jauh dengan pencipta ?
apakah setan akan selalu kita persalahkan ?
benarkah ini bukan karena kita yang menjauhkan ?
aaaaaaaaaaaaah
aku terlalu sibuk bertanya mengapa
sementara waktu semakin habis mengkikis kisah
yang seharusnya aku menyegerakan untuk bertaubat saja
Senin, 19 Mei 2014
aku, kamu, kita, mereka dan Tuhan
Mungkin saja kau pernah
Kau berdiri tanpa suatu arti
Berusaha menyingkap cinta yang punah
Dalam kelam yang telah mati
Mungkin saja kau pernah
Duduk dan merenung dalam dimensi diri
Teruntuk suatu harap yang kau gantung tinggi
Lalu kau akan bersujud
Berdoa berteman dengung malam
Kesunyian pembawa khusyuk mewujud
Penghasut harap lebih mendalam
Kau bercerita kepada Tuhan
Kau berkeluh kesah pada-Nya
Kau menyakinkan keyakinan
Kau "sementara" dekat pada-Nya
Kau menghambakan diri sehamba-hambanya
Kau menuhankan Tuhan seTuhan-Tuhannya
Kau merasa kecil kau merasa tiada daya upaya
Kau yang menjadi daun takdir terombang-ambing dunia
kau disini bisalah kamu atau mereka
kau disini bisalah aku atau kita
kamu, aku, kita, dan mereka adalah manusia
hakikat manusia tiada berbeda
kita hanyalah sebuah ciptaan yang Kuasa
tiada berbeda akan hadap-Nya
tetapi Tuhan tiada menjadikan kita korban takdir semata
Tuhan kuasa merubahnya jika kita konsisten berusaha
Tiada harus kita merasa malu menghamba
karena semua yang berTuhan menghamba
dan Tuhan bukanlah sebatas konsepsi kekuasaan terbesar semata
Tuhan sebenar-benarnya kebenaran Maha mendengar, melihat, bijaksana, kuasa, dan segala-galanya
Langganan:
Postingan (Atom)





